ONE ON ONE tvOne
ONE ON ONE tvOne // PROGRAM EKSKLUSIF · 2026

PERAN INDONESIA DI TENGAH
KONFLIK GLOBAL:
DIPLOMASI, GEOPOLITIK & KEMANUSIAAN

Diskusi eksklusif bersama Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta — menelaah posisi Indonesia di tengah dinamika konflik AS-Israel-Iran, eskalasi kawasan, dan perjuangan kemerdekaan Palestina.

Anis Matta · Wamenlu RI AS – Israel – Iran Selat Hormuz 2026 Palestina · Genosida Diplomasi Multilateral Keamanan Pangan Global Summit Flotila OKI · PBB · BRICS
50/50 Peluang Damai vs Perang (kawasan)
2026 Krisis · Selat Hormuz
7 Mrd Penduduk Terdampak (3 Benua Tua)
30+ Tahun Perjuangan Palestina (Anis Matta)
GULIR
Abstrak & Pengantar

Abstrak Program

Program One on One tvOne edisi eksklusif ini menghadirkan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta, untuk membahas secara mendalam peran Indonesia di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks. Di tengah dinamika dunia yang terus berubah, Indonesia dituntut untuk berdiri teguh menjaga keseimbangan, perdamaian, dan kepentingan nasional.

Diskusi ini mencakup tiga isu strategis utama: eskalasi konflik AS-Israel-Iran di Selat Hormuz, ancaman krisis pangan dan pupuk yang berdampak ke Asia, serta perkembangan perjuangan kemerdekaan Palestina dalam era genosida dan Global Summit Flotila.

Argumen utama Anis Matta: Penyelesaian Iran tidak sesederhana Venezuela. Iran adalah "kedondong bukan durian" — halus di luar namun berduri di dalam. Sistem substitusi Iran melalui koridor darat dan Laut Kaspia membuat blokade Selat Hormuz tidak otomatis menghasilkan isolasi strategis.

Kata kunci: Konflik Global; Diplomasi Indonesia; Selat Hormuz; Iran; Israel; Palestina; Keamanan Pangan; Global Summit Flotila; OKI; BRICS; INSTC
Pertanyaan Utama

Bagaimana Indonesia memandang eskalasi konflik global yang semakin kompleks, dan apa peran strategis RI di tengah ketidakpastian geopolitik 2026?

Narasumber Eksklusif

Anis Matta — Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Pewawancara: Venna Kintan. Program One on One tvOne, 2026.

Infografis · Kerangka Konflik 2026

Peta Konflik & Kepentingan Global

Mekanisme Eskalasi — No War No Peace
TEKANANAS-Israel tekan Selat Hormuz & kawasan Timur Tengah
ADAPTASIIran bertahan: koridor Kaspia, INSTC, Rusia, Tiongkok
NEGOSIASI50-50: tarik ulur antara faksi perang & damai di semua pihak
DISTRAKSIIsrael sebagai pengganggu utama proses perdamaian kawasan
INDONESIAMendorong damai melalui OKI, PBB, BRICS & jalur bilateral
// KONSEP-01
D=K
Durian vs Kedondong
Venezuela = "Durian" (seram di depan, mudah diselesaikan). Iran = "Kedondong" (halus di luar, berduri di dalam). Iran jauh lebih kompleks dari prediksi awal 48 jam.
// KONSEP-02
NW
No War No Peace
Situasi kawasan: tidak ada perang skala besar, tidak ada perdamaian yang pasti. Tarik ulur antara faksi keras dan negosiasi di setiap negara membuat situasi sangat dinamis.
// KONSEP-03
SA
Strategic Adjustment
Semua aktor — Amerika, Israel, Iran, negara Teluk — harus melakukan penyesuaian strategi setelah Iran terbukti survive. Posisi tawar Iran lebih kuat dari sebelum perang.
// KONSEP-04
EAI
Efek Anti-Isolasi
Tekanan terhadap Iran justru memperdalam integrasi Iran dengan jaringan Eurasia — Rusia, Tiongkok, INSTC. Blokade yang dimaksud mengisolasi justru memperluas koneksi Iran.
// Grafis · Posisi Aktor
Orientasi Aktor Utama Konflik
Skala kecenderungan perang vs damai
// Grafis · Dampak Kawasan
Distribusi Dampak Konflik Hormuz
Berdasarkan ketergantungan energi kawasan
// Grafis · 5 Unsur
Kekuatan Ketahanan Strategis Iran
Lima dimensi — skala konseptual Anis Matta
01 · Konteks Konflik

Konflik AS-Israel-Iran dalam Dua Lanskap

Menurut Anis Matta, konflik Iran–Amerika Serikat–Israel harus dibaca dalam dua lanskap: lanskap regional dan lanskap global. Keduanya saling terkait dan membentuk dinamika yang sangat kompleks.

Lanskap Regional — No War No Peace

Situasi tidak ada perang skala besar, tidak ada perdamaian pasti. Peluang damai vs perang berlanjut dinilai 50-50 oleh para pelaku kawasan. Terlalu banyak faktor tidak terkendali oleh seluruh aktor.

Lanskap Global — Geografi Kekuatan

Benua Amerika: paling aman, kaya energi & pangan. Tiga benua tua (Asia, Afrika, Eropa): 7 miliar penduduk, bergantung pada jalur Timur Tengah untuk energi, logistik, dan pupuk.

Iran: Kedondong, Bukan Durian

Anis Matta menggambarkan perbedaan Iran dan Venezuela dengan analogi yang tajam: Venezuela adalah "durian" — terlihat seram di depan, namun mudah diselesaikan (selesai hanya dengan penculikan Maduro). Iran adalah "kedondong" — halus di depan, namun begitu dimasuki ada duri di dalam.

"Kalau di Iran, tidak sebesar gaungnya soal Venezuela sebelumnya. Cuma ada pengerahan pasukan yang luar biasa dan asumsinya bahwa perang ini akan selesai dalam 48 jam, tetapi di luar prediksi." — Anis Matta, Wamenlu RI

Strategic Adjustment Semua Pihak

Karena ada realitas baru di lapangan — Iran survive dari serangan pertama — semua pihak terpaksa melakukan strategic adjustment. Iran, Amerika, Israel, dan negara-negara Teluk sebagai collateral damage, semuanya harus mengubah pendekatan strategis mereka.

Di setiap negara selalu ada dua kelompok: yang pro perang dan yang pro damai. Tarik ulur antara dua kelompok ini yang membuat proses perdamaian sangat alot. Yang terjadi saat ini bahkan belum masuk tahap perundingan — masih negosiasi syarat untuk siap berunding.

Bagi Iran, makna menangnya adalah: "Saya bisa bertahan di depan negara adidaya, negara yang secara militer paling powerful di dunia." Kriteria kemenangan Iran berbeda dengan kriteria Amerika.
Kronologi Eskalasi Kawasan
2 Jan 2026
Venezuela
Maduro diculik
"Durian" selesai
Feb 2026
Perang Iran
Dimulai, target
48 jam meleset
Mei 2026
Negosiasi syarat
50-50 perang/damai
Qatar, Saudi terlibat
Ongoing
Iran survive
Posisi tawar
Iran menguat
Potensi
Perundingan resmi
Min. 60 hari
jika dimulai
// Grafis · Perbandingan Kasus
Venezuela vs Iran: Kompleksitas Strategis
Perbandingan dimensi analisis — Anis Matta
// Grafis · Chokepoint
Dua Chokepoint Strategis: Hormuz & Babul Mandeb
Dampak penutupan terhadap mobilitas dan perdagangan dunia
02 · Ancaman Keamanan Pangan

Pupuk, Energi & Ancaman Kelaparan Asia

Ancaman yang lebih berbahaya dari sekedar krisis energi adalah krisis pupuk. Jika perang berlanjut dan jalur perdagangan terganggu, ancaman kelaparan akan melanda negara-negara Asia berpopulasi padat.

// 01
Krisis Energi Langsung
Kenaikan harga minyak. Asia tidak punya sumber energi cukup — Cina, India, ASEAN bergantung pada Timur Tengah.
🌾
// 02
Ancaman Pupuk
Penutupan jalur Hormuz + Babul Mandeb mengganggu pasokan pupuk ke Asia. Rusia sebagai alternatif terkendala sanksi pembayaran.
🚢
// 03
Gangguan Mobilitas
Berhentinya mobilitas jauh lebih berbahaya dari krisis energi. Mengganggu perdagangan dunia secara keseluruhan.
🏭
// 04
Industri Tidak Kompetitif
Harga minyak naik → industri Asia tidak kompetitif. Harga pasar perlu ditambah 10-20 dolar saat transaksi.
🌍
// 05
7 Miliar Penduduk
7 miliar penduduk di tiga benua tua menjadi korban dari perang yang mereka tidak terlibat. "Anda berperang, kami yang mati."
🇮🇩
// 06
Respons Indonesia
RI mengejar keamanan pangan: investasi pupuk di Laos, kerja sama dengan Yordania, Maroko, Aljazair (fosfat).
"Ancaman dalam jangka menengah adalah ancaman kelaparan kalau perang terus berlangsung. Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah: 'Anda berperang, kami yang mati.'" — Anis Matta
Penilaian Ketahanan Pangan Indonesia dalam Menghadapi Krisis
Diversifikasi Sumber Pupuk (Laos, Yordania, Maroko)55%
Cadangan Energi Domestik60%
Jalur Perdagangan Alternatif45%
Sistem Pembayaran Non-SWIFT (kendala sanksi Rusia)30%
Diplomasi Multilateral (OKI, PBB, BRICS)75%
// Grafis · Ketergantungan Energi
Ketergantungan Energi Asia terhadap Timur Tengah
Persentase impor energi dari kawasan Hormuz
// Grafis · Jalur Alternatif
Jalur Substitusi Iran: Koridor Non-Maritim
Kapasitas relatif tiap koridor
03 · Posisi Indonesia

Peran RI: Mendorong Zona Konflik Menjadi Zona Pembangunan

Konsern utama Indonesia adalah mengubah zona konflik menjadi zona pembangunan. Syarat tunggalnya: damai. Indonesia tidak terlibat langsung dalam negosiasi, namun aktif di forum multilateral dan mendorong perdamaian secara bilateral kepada semua pihak.

Prinsip Indonesia: "Kita harus mendorong semua kekuatan yang ada di semua negara ini — Amerika, Iran, Teluk — untuk mendorong perdamaian. Sebab kita juga rugi kalau tidak ada perdamaian. Kalau perang berlangsung, kita juga jadi korban." — Anis Matta

Platform Keterlibatan Indonesia

// PLATFORM-01
OKI
Organisasi Kerjasama Islam
Iran, negara Teluk, dan Indonesia adalah sesama anggota OKI. Forum ini digunakan secara maksimum untuk mendorong proses perdamaian kawasan.
// PLATFORM-02
PBB
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Forum multilateral global. Indonesia terlibat dalam semua resolusi dan diskusi terkait deeskalasi konflik dan perlindungan warga sipil.
// PLATFORM-03
BRICS
BRICS & Multilateral
Iran dan negara Teluk juga sesama anggota BRICS. Ini membuka jalur baru untuk mendorong perdamaian lintas platform geopolitik.
// PLATFORM-04
BILATERAL
Diplomasi Bilateral
Koordinasi dengan Yordania, Mesir, Turki, Siprus, Emirat untuk perlindungan WNI dan pendorong perdamaian. Juga misi keamanan pangan ke Laos dan negara fosfat.

Keterbatasan & Peluang Indonesia

Skenario Perubahan Paradigma Kawasan: Menlu Oman di Manama Forum menyatakan bahwa ancaman keamanan nasional negara-negara Arab bukan lagi Iran — melainkan Israel. Setelah Israel menyerang Suriah, Lebanon, Yaman, Iran, dan Qatar, seluruh negara kawasan melakukan strategic adjustment.
// Grafis · Kontribusi Teoretis
Posisi Aktor Regional: Sebelum vs Sesudah Perang Iran 2026
Pergeseran paradigma strategis — skala konseptual
04 · Isu Palestina

Palestina: Dari Isu Arab ke Isu Kemanusiaan Global

Menurut Anis Matta yang terlibat dalam isu Palestina lebih dari 30 tahun, perjuangan Palestina telah mencapai tahap tertinggi: perang antara kemanusiaan dan anti-kemanusiaan. Ini bukan lagi milik rakyat Palestina atau dunia Islam semata, melainkan milik seluruh umat manusia.

Evolusi Narasi Perjuangan Palestina
1950–1985
Konflik Arab-Israel
Isu Ras
1990–2020
Dunia Islam vs Israel
Isu Agama
2023–2025
Genosida Gaza
Mata Dunia Terbuka
2025–2026
Kemanusiaan vs
Anti-Kemanusiaan
Global Issue
Masa Depan
Kemerdekaan Palestina
Lebih dekat dari
yang dibayangkan
Mengapa Isu Palestina Meluas?

Genosida 2023–2025 membuka mata dunia. Isu Palestina menjadi isu pilpres Eropa & Amerika. Partai Demokrat AS menganalisis kekalahan pilpres karena isu Gaza. Flotila menggerakkan warga Eropa lebih agresif dari negara Islam sendiri.

Posisi Moral yang Menguat

"Semakin kejam Israel memperlakukan mereka, semakin meningkat adrenalin perlawanan." Moral ground Israel semakin habis. Israel tidak lagi melawan rakyat Palestina — yang dilawan adalah masyarakat manusia.

Global Summit Flotila & WNI

Model gerakan Flotila dinilai brilian — melibatkan seluruh masyarakat dunia, mengangkat Palestina ke level isu kemanusiaan universal. 9 WNI Indonesia ditahan Israel, namun Indonesia tidak punya hubungan diplomatik langsung dengan Israel.

"Saya memberikan apresiasi kepada teman-teman yang terlibat dalam Global Summit Flotila, dan apresiasi mendalam untuk WNI yang ditahan di sana. Mudah-mudahan menjadi pahala bagi mereka dan kontribusi bagi Indonesia serta kemerdekaan Palestina." — Anis Matta
// FLOTILA-01
9 WNI
Ditahan Israel
9 WNI ditahan di Flotila 2026. Kemlu koordinasi via KBRI Roma (Siprus), Yordania, Mesir, Turki, Emirat. Rute pemulangan via Dubai.
// FLOTILA-02
GERAKAN
Permanen Hingga Merdeka
Flotila bukan gerakan sekali jalan — telah menjadi gerakan permanen. Yang kita lihat baru lewat laut, belum lewat darat. Ini adalah tren supporting system baru.
// FLOTILA-03
OPTIMIS
Kemerdekaan Lebih Dekat
Basis moral kemerdekaan Palestina jauh lebih kuat. Anis Matta: "Saya sangat optimis bahwa kemerdekaan Palestina jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan."
// Grafis · Dukungan Indonesia
Dimensi Dukungan Indonesia untuk Palestina
Politik, media, kemanusiaan, NGO
// Grafis · Evolusi Isu
Spektrum Keterlibatan Global dalam Isu Palestina
Berdasarkan evolusi narasi dari 1950 hingga 2026
05 · Kesimpulan Strategis

Pelajaran Strategis dari Diskusi

Program One on One ini mengungkap lima pelajaran strategis kunci bagi Indonesia dan dunia: (1) Konflik Iran adalah "kedondong" — jauh lebih kompleks dari prediksi, sehingga semua pihak harus melakukan strategic adjustment; (2) Selat Hormuz + Babul Mandeb adalah dua chokepoint yang bila tertutup mengancam 7 miliar penduduk tiga benua tua; (3) Ancaman nyata bukan energi semata, melainkan pupuk dan kelaparan; (4) Perjuangan Palestina telah berevolusi menjadi isu kemanusiaan global dengan basis moral yang jauh lebih kuat; (5) Indonesia harus proaktif melalui OKI, PBB, dan BRICS, sekaligus mengamankan kemandirian pangan nasional.

// PELAJARAN-01
L1
Asimetri Prediksi vs Realita
Asumsi 48 jam penyelesaian Iran meleset jauh. Kekuatan daya tahan (endurance) Iran — geografis, Rusia, Tiongkok — tidak diperhitungkan. Harus selalu ada scenario planning.
// PELAJARAN-02
L2
Koridor Non-Maritim Menentukan
Iran survive karena punya akses non-maritim — INSTC, Kaspia, koridor timur ke Tiongkok. Ini mengubah logika blokade: penguasaan laut tidak cukup tanpa meruntuhkan sistem substitusi.
// PELAJARAN-03
L3
Israel: Pengganggu Perdamaian
Serangan Israel ke Lebanon, Yaman, Iran, Suriah, Qatar mengubah paradigma kawasan — ancaman utama di mata Arab bukan Iran, melainkan Israel. Netanyahu semakin terisolasi.
// PELAJARAN-04
L4
Kekuatan Ekonomi Teluk Menggeser Pengaruh
Volume investasi Teluk ke Amerika melebihi Israel. Trump menunda serangan atas permintaan negara Teluk. Ini menunjukkan bahwa bobot ekonomi menggeser keseimbangan pengaruh politik di Washington.
Sintesis Anis Matta: "Perjuangan kemerdekaan Palestina sudah sampai ke level perang antara kemanusiaan dan anti-kemanusiaan. Isu Palestina bukan lagi milik rakyat Palestina semata, tapi milik dunia. Tidak ada yang bisa melawan kemanusiaan. Ini masalah waktu."
// Grafis · Sintesis Pelajaran
Lima Pelajaran Strategis: Bobot Relatif
Implikasi bagi kebijakan luar negeri Indonesia
Transkrip Lengkap

Transkrip One on One — Anis Matta × Venna Kintan

Program One on One tvOne · Peran Indonesia di Tengah Konflik Global · 2026 · Narasumber: Anis Matta (Wamenlu RI) · Pewawancara: Venna Kintan

// Pembukaan Program

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam pemirsa. Anda menyaksikan program One on One bersama saya Venna Kintan. Di tengah konflik yang terus berkembang saat ini, Indonesia dituntut untuk bersikap beradaptasi terhadap perubahan geopolitik dunia. Lalu, bagaimana Indonesia memandang eskalasi konflik yang semakin kompleks ini? Malam hari ini program One on One secara eksklusif mengundang Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Bapak Anis Matta.

// Venna Kintan — Host

Pak Wamen, kita ingin mengawali diskusi kita malam hari ini dengan pembahasan mengenai situasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan juga Iran yang kita tahu kian memanas saat ini. Bagaimana Anda melihat eskalasi konflik sejauh ini?

// Anis Matta — Wamenlu RI

Konflik Iran atau perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sekarang ini bisa kita baca dalam dua landskap. Yang pertama landskap regional dan yang kedua landskap global.

Di landskap regional sekarang ini kita menyaksikan ada satu proses yang bisa kita bilang no war no peace. Jadi situasinya tidak ada perang eskala besar, tetapi juga tidak ada damai yang pasti. Kalau kita bertanya kepada para pelaku di kawasan—saya kebetulan baru kembali dari perjalanan di Timur Tengah—dalam banyak perbincangan secara informal, mereka semua memberikan skor tentang situasi: peluang damai dan perang berlanjut itu 50-50.

Kita lihat misalnya, bagi Amerika, menyelesaikan Iran ini tidak semudah menyelesaikan Venezuela. Kalau di Venezuela sebelumnya kita menyaksikan gaungnya di media luar biasa besarnya, seakan-akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi. Tahu-tahunya cuma penculikan, dan selesai. Kalau di Iran, tidak sebesar gaungnya soal Venezuela sebelumnya. Cuma ada pengerahan pasukan yang luar biasa dan asumsinya bahwa perang ini akan selesai dalam 48 jam, tetapi di luar prediksi.

Jadi kira-kira kalau kita membuat perbedaan Venezuela dan Iran, ini sama dengan durian dan kedondong. Kalau durian, seram di depannya, begitu dibelah enak. Kalau kedondong, halus di depannya, begitu dimakan ada duri di dalamnya. Sekarang, karena ada realitas baru di lapangan yang tidak semudah menyelesaikan kasus ini, maka semua pihak di lapangan, para aktor dan semua yang terlibat, pasti akan melakukan strategic adjustment—penyesuaian strategi.

Yang terjadi sekarang ini sebenarnya baru mau sampai kepada adanya semacam nota kesepakatan awal, belum perundingan. Belum ada perundingan sebenarnya. Yang terjadi ini adalah negosiasi syarat-syarat yang diinginkan oleh para pihak untuk berunding masing-masing.

Yang bisa kita pastikan sekarang dalam proses regional ini adalah bahwa Iran telah mencapai satu strategic position yang baru, yang memberikan mereka posisi tawar yang jauh lebih kuat daripada sebelum perang. Tidak gampang memaksakan kehendak kepada Iran saat ini karena dalam perang ini mereka terbukti survive.

Kriteria Amerika dalam menyatakan bahwa dia menang berbeda dengan kriteria Iran dalam menyatakan bahwa dia menang. Bagi Iran, makna menangnya adalah "Saya bisa bertahan di depan negara adidaya, negara yang secara militer paling powerful di dunia."

// Venna Kintan

Bagaimana kemudian perdamaian bisa tercapai jika di tengah situasi menuju perundingan, serangan militer masih terus terjadi?

// Anis Matta — Wamenlu RI

Itu yang saya maksud tadi, bahwa di dalam masing-masing negara ada tarik ulur antara dua kekuatan itu. Yang ingin damai dan yang ingin menyetop perang di pihak Amerika. Sepanjang tarik ulur ini masih terus terjadi, proses negosiasi ini akan sangat-sangat alot.

Faktor utama yang bisa membuat terjadinya eskalasi lebih lanjut pada dasarnya adalah Israel. Karena kalau ada perdamaian di kawasan itu, maknanya secara militer dan politik adalah Iran menang. Itu berarti Iran akan menjadi satu kekuatan utama di kawasan, dan bagi Israel—secara personal bagi Netanyahu—itu adalah kekalahan telak. Israel tidak mau itu. Gangguan terbesar terhadap proses perdamaian adalah Israel, dan secara personal adalah Netanyahu.

// Venna Kintan

Kita bisa melihat bagaimana Presiden Amerika Serikat Donald Trump seperti mendorong upaya perundingan, tapi kemudian Netanyahu seakan berbisik kepada Amerika Serikat untuk terus melancarkan serangan sampai melemahkan Iran?

// Anis Matta

Karena itu seakan selalu ada yang namanya distraksi, gangguan dalam proses perdamaian. Gangguan terbesarnya akan datang dari situ.

Kalau kita ingin memahaminya lebih jauh, kita tarik masalah ini ke landskap global. Saya ingin melihatnya terlebih dahulu dalam perspektif geografi. Perang Iran ini terjadi bulan Februari tahun ini. Satu bulan sebelumnya adalah Venezuela, tepatnya 2 Januari 2026.

Secara geografi, kawasan benua Amerika—dari Kanada, Amerika Serikat, turun ke Amerika Latin—adalah benua yang paling aman. Kombinasi minyak yang ada di Kanada, Amerika, Venezuela, dan beberapa negara Amerika Latin lainnya sangat besar. Ini kawasan yang paling aman dengan kombinasi GDP sekitar 40 triliun lebih. Ini artinya secara ekonomi bisa menjadi satu pusat pertumbuhan ekonomi yang paling aman di dunia.

Di seberang benua ini ada tiga benua tua: Asia, Afrika, dan Eropa. Jantung dari tiga benua tua ini adalah Timur Tengah. Di jantung ini, dia bukan hanya jantung dari sisi energi, tetapi juga terutama dari sisi logistik, jalur pergerakan, terutama Selat Laut Merah. Yang kita pikirkan selama ini cuma Selat Hormus, di mana semua pasokan energi keluar. Tapi sebenarnya jalur perdagangan yang penting adalah yang menghubungkan Eropa, Afrika, Asia — di situ ada teluk kecil Babul Mandeb.

Yang lebih mengkhawatirkan dari energi adalah pupuk. Pupuk akan menjadi sumber ancaman kelaparan.

⏸ Jeda Program — Berlanjut
// Venna Kintan — Setelah Jeda

Kita lanjutkan diskusi. Pak Wamen, tadi sempat terpotong penjelasan Anda soal pupuk. Bagaimana soal pupuk ini?

// Anis Matta

Kita harus melihat pupuk dari sisi geografi dan populasi. Penduduk bumi sekarang 8 miliar lebih. Di benua Amerika hanya ada 1,1 miliar. Sisanya 7 miliar ada di tiga benua tua, paling banyak Asia, kemudian Afrika, baru Eropa.

Negara-negara Asia seperti Cina, India, Korea, Jepang, Asia Tenggara, Pakistan, Bangladesh—semua adalah negara padat populasi, ekonominya bertumbuh berbasis pada industri dan berorientasi pada ekspor. Tapi kita tidak punya sumber daya energi yang cukup.

Sekarang begitu Hormus menjadi chokepoint, kolateralnya yang paling besar adalah Asia. Korbannya yang paling besar adalah Asia. Yang kita rasakan sekarang baru dampak energinya—kenaikan harga. Jika perang terus berlangsung dan chokepoint ini terus terjadi, kita akan punya masalah pupuk. Masalah pupuk akan menjadi masalah semua negara di kawasan Asia.

Kita bisa mengimpor dari mana? Salah satunya Rusia. Tapi kita punya kendala dalam payment system karena sanksi. Itu sebabnya pemerintah Indonesia terus berusaha mengejar sisi keamanan pangan sebagai instrumen utama untuk survive sebagai bangsa. Saya baru dari Laos kemarin, yang kita bantu adalah kerja sama investasi soal pupuk, juga dengan negara-negara Timur Tengah seperti Yordania, Maroko, Aljazair, yang punya fosfat.

"Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah: 'Anda berperang, kami yang mati.'"

// Venna Kintan

Beberapa hari lalu, Amerika Serikat kembali menyerang wilayah Iran Selatan. Juga Israel serang Lebanon lagi meski gencatan senjata, pasukan darat tembus garis kuning. Di tengah negosiasi, serangan militer masih terus gencar dilakukan.

// Anis Matta

Semua serangan ke Iran di wilayah mana pun dan juga ke Lebanon adalah instrumen distraksi, instrumen untuk menggagalkan semua proses perdamaian. Bukan untuk menekan, itu untuk menggagalkan, karena memang ada yang tidak menginginkan perdamaian.

Bagi Israel, kepentingannya adalah mendorong mazhab yang keras. Karena jika ini terhenti dan ada perdamaian, Netanyahu akan semakin terisolasi di kawasan. Yang mungkin dicegah oleh Israel adalah negara-negara Teluk menemukan cara untuk berdamai dengan Iran.

// Venna Kintan

Negara-negara Islam menunjukkan sikap yang berbeda. Posisi Indonesia saat ini ke arah mana?

// Anis Matta

Kita harus lihat dulu. Konsern kita adalah bagaimana mengubah zona konflik ini menjadi zona pembangunan. Syaratnya hanya satu: damai. Kita harus mendorong semua kekuatan yang ada di semua negara ini—Amerika, Iran, Teluk—untuk mendorong perdamaian. Sebab kita juga rugi kalau tidak ada perdamaian. Kalau perang berlangsung, kita juga jadi korban. Karena kita negara industri. Industri kita tidak akan kompetitif kalau harga minyak naik dan jalur perdagangan terganggu atau tertutup.

Masalahnya, kita tidak terlibat dalam proses negosiasi secara langsung. Yang terlibat adalah Pakistan, negara-negara Teluk, Turki. Indonesia tidak terlibat secara langsung, tapi terlibat dalam forum-forum multilateral, baik melalui OKI maupun PBB. Yang dilakukan Indonesia adalah pada forum multilateral, semua kita pakai untuk mendorong proses perdamaian.

// Venna Kintan

Selain konflik AS-Israel-Iran, konflik Palestina masih berlangsung. Bagaimana menurut Anda konflik Palestina yang sampai saat ini belum selesai?

// Anis Matta

Kalau kita simpulkan, tahapan perjuangan kemerdekaan Palestina sudah sampai ke level yang saya sebut sebagai perang antara kemanusiaan dan anti kemanusiaan. Isu Palestina bukan lagi milik rakyat Palestina semata, tapi milik dunia.

Yang membuka mata dunia adalah genosida yang terjadi sepanjang 2023, 2024, sampai 2025 kemarin, yang bahkan masih terus terjadi. Orang memandang bahwa peristiwa di Palestina—begitu genosida terjadi—semua orang di dunia terbuka matanya bahwa yang kita saksikan ini bukan sekadar penjajahan, ini real genosida.

Semua langkah yang dilakukan Israel di Gaza untuk terus menerus membumihanguskan atau mengusir orang-orang Gaza dengan berbagai cara hanya akan menghancurkan moral ground Israel di mata dunia. Basis moral kenapa negara itu berdiri semakin habis. Lawannya bukan rakyat Palestina, tapi dunia. Ini masalah waktu. Tidak ada yang bisa melawan kemanusiaan.

// Venna Kintan

Lantas di mana posisi Indonesia dalam mendorong kemerdekaan Palestina?

// Anis Matta

Sekarang kita memperbanyak dukungan politik, media, dan bantuan kemanusiaan. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dan rakyat Indonesia sudah luar biasa. Bahkan bantuan rakyat masih lebih besar daripada bantuan pemerintah. Ini fenomena yang menarik: sikap rakyat dan pemerintah benar-benar satu nafas, sejalan.

Saya terlibat dalam isu Palestina lebih dari 30 tahun secara personal. Saya mengikuti bagaimana gelombang perlawanan menuju kemerdekaan berkembang. Di tahun 50-an, 60-an, 70-an sampai pertengahan 80-an, narasinya adalah konflik Arab-Israel, isu ras. Tahun 90-an ke atas, narasinya berkembang menjadi dunia Islam versus Israel. Tapi dalam 3 tahun terakhir, narasinya berkembang menjadi kemanusiaan versus anti kemanusiaan.

Kalau kita melihat rangkaian waktu bagaimana perjuangan ini berkembang, saya sangat optimis bahwa kemerdekaan Palestina jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan.

// Venna Kintan

Soal Global Summit Flotila: relawan termasuk asal Indonesia ditangkap dan disiksa tentara Israel. Bagaimana memperjuangkan kemanusiaan jika relawan dicegah?

// Anis Matta

Saya garis bawahi dua fakta. Pertama, model pergerakan membantu perjuangan kemerdekaan Palestina melalui Global Summit Flotila adalah inisiatif yang sangat brilian karena melibatkan seluruh masyarakat dunia. Kedua, Global Summit Flotila telah menjadi keputusan bagi banyak pihak untuk menjadi gerakan permanen sampai Palestina merdeka.

Yang kita lihat baru lewat laut, belum lewat darat. Ini menjadi milestone bahwa Palestina tidak lagi diperjuangkan oleh rakyat Palestina sendiri, tapi rakyat dunia, bukan lagi hanya masyarakat muslim, tapi masyarakat dunia. Semakin kejam Israel memperlakukan mereka, semakin menang perjuangan flotila itu.

// Venna Kintan

Evaluasi apa yang dilakukan pemerintah atas insiden yang dialami relawan asal Indonesia?

// Anis Matta

Pertama, Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, jadi tidak ada komunikasi langsung. Kita berkoordinasi dengan negara terkait seperti Yordania, Mesir, Turki, Siprus. Kita berkoordinasi dengan KBRI di Roma, karena Siprus berada di bawah KBRI Roma.

Tugas utama Kemlu adalah perlindungan warga negara. Di rute mana pun mereka lewati, semua KBRI di kawasan itu terlibat. Sejak perang Iran, kita di Kemlu mendapatkan report real-time dari kedutaan-kedutaan kita. Kita membentuk crisis center untuk memantau perkembangan terus-menerus.

Saya memberikan apresiasi kepada teman-teman yang terlibat dalam Global Summit Flotila, dan apresiasi mendalam untuk WNI yang ditahan di sana. Mudah-mudahan menjadi pahala bagi mereka dan kontribusi bagi Indonesia serta kemerdekaan Palestina.

Semakin kejam Israel memperlakukan para aktivis yang terlibat, semakin meningkatkan adrenalin perlawanan dan menjadi tontonan global, sama seperti genosida, dan sekali lagi memperkuat fondasi moral bagi kemerdekaan Palestina yang mungkin akan datang lebih cepat dari yang kita duga. Prinsipnya, pemerintah memberikan dukungan dan melindungi relawan Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan. Itu kewajiban pemerintah.

// Venna Kintan — Penutup

Terima kasih banyak Pak Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Bapak Anis Matta, sudah meluangkan waktu secara eksklusif dalam program One on One. Sukses selalu, Pak.

// Anis Matta

Terima kasih.

// Penutup Program

Selamat malam, pemirsa. Demikian program One on One. Saya pamit. Terima kasih atas kebersamaan Anda. Sampai jumpa.

Sumber & Referensi

Sumber & Referensi

Penyusun & Disclaimer

Konten ini disusun berdasarkan transkrip resmi program One on One tvOne. Semua kutipan merupakan pernyataan Anis Matta selaku Wakil Menteri Luar Negeri RI. PDF dokumen pendamping: Peran Indonesia di Tengah Konflik Global. Untuk verifikasi, kunjungi sumber YouTube resmi tvOne.

// DOKUMEN REFERENSI PDF

Dokumen: Peran Indonesia di Tengah Konflik Global

Navigasi dengan tombol di bawah, tombol panah keyboard, atau gestur geser. Scroll mouse untuk zoom. Tekan Layar Penuh untuk melihat dalam mode landscape 16:9.

Memuat dokumen...
📄

File Peran Indonesia di Tengah Konflik Global.pdf tidak ditemukan.
Pastikan file berada di folder yang sama dengan index.html ini.

— / —