Diskusi eksklusif bersama Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta — menelaah posisi Indonesia di tengah dinamika konflik AS-Israel-Iran, eskalasi kawasan, dan perjuangan kemerdekaan Palestina.
Program One on One tvOne edisi eksklusif ini menghadirkan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta, untuk membahas secara mendalam peran Indonesia di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks. Di tengah dinamika dunia yang terus berubah, Indonesia dituntut untuk berdiri teguh menjaga keseimbangan, perdamaian, dan kepentingan nasional.
Diskusi ini mencakup tiga isu strategis utama: eskalasi konflik AS-Israel-Iran di Selat Hormuz, ancaman krisis pangan dan pupuk yang berdampak ke Asia, serta perkembangan perjuangan kemerdekaan Palestina dalam era genosida dan Global Summit Flotila.
Argumen utama Anis Matta: Penyelesaian Iran tidak sesederhana Venezuela. Iran adalah "kedondong bukan durian" — halus di luar namun berduri di dalam. Sistem substitusi Iran melalui koridor darat dan Laut Kaspia membuat blokade Selat Hormuz tidak otomatis menghasilkan isolasi strategis.
Bagaimana Indonesia memandang eskalasi konflik global yang semakin kompleks, dan apa peran strategis RI di tengah ketidakpastian geopolitik 2026?
Anis Matta — Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Pewawancara: Venna Kintan. Program One on One tvOne, 2026.
Menurut Anis Matta, konflik Iran–Amerika Serikat–Israel harus dibaca dalam dua lanskap: lanskap regional dan lanskap global. Keduanya saling terkait dan membentuk dinamika yang sangat kompleks.
Situasi tidak ada perang skala besar, tidak ada perdamaian pasti. Peluang damai vs perang berlanjut dinilai 50-50 oleh para pelaku kawasan. Terlalu banyak faktor tidak terkendali oleh seluruh aktor.
Benua Amerika: paling aman, kaya energi & pangan. Tiga benua tua (Asia, Afrika, Eropa): 7 miliar penduduk, bergantung pada jalur Timur Tengah untuk energi, logistik, dan pupuk.
Anis Matta menggambarkan perbedaan Iran dan Venezuela dengan analogi yang tajam: Venezuela adalah "durian" — terlihat seram di depan, namun mudah diselesaikan (selesai hanya dengan penculikan Maduro). Iran adalah "kedondong" — halus di depan, namun begitu dimasuki ada duri di dalam.
Karena ada realitas baru di lapangan — Iran survive dari serangan pertama — semua pihak terpaksa melakukan strategic adjustment. Iran, Amerika, Israel, dan negara-negara Teluk sebagai collateral damage, semuanya harus mengubah pendekatan strategis mereka.
Di setiap negara selalu ada dua kelompok: yang pro perang dan yang pro damai. Tarik ulur antara dua kelompok ini yang membuat proses perdamaian sangat alot. Yang terjadi saat ini bahkan belum masuk tahap perundingan — masih negosiasi syarat untuk siap berunding.
Ancaman yang lebih berbahaya dari sekedar krisis energi adalah krisis pupuk. Jika perang berlanjut dan jalur perdagangan terganggu, ancaman kelaparan akan melanda negara-negara Asia berpopulasi padat.
Konsern utama Indonesia adalah mengubah zona konflik menjadi zona pembangunan. Syarat tunggalnya: damai. Indonesia tidak terlibat langsung dalam negosiasi, namun aktif di forum multilateral dan mendorong perdamaian secara bilateral kepada semua pihak.
Menurut Anis Matta yang terlibat dalam isu Palestina lebih dari 30 tahun, perjuangan Palestina telah mencapai tahap tertinggi: perang antara kemanusiaan dan anti-kemanusiaan. Ini bukan lagi milik rakyat Palestina atau dunia Islam semata, melainkan milik seluruh umat manusia.
Genosida 2023–2025 membuka mata dunia. Isu Palestina menjadi isu pilpres Eropa & Amerika. Partai Demokrat AS menganalisis kekalahan pilpres karena isu Gaza. Flotila menggerakkan warga Eropa lebih agresif dari negara Islam sendiri.
"Semakin kejam Israel memperlakukan mereka, semakin meningkat adrenalin perlawanan." Moral ground Israel semakin habis. Israel tidak lagi melawan rakyat Palestina — yang dilawan adalah masyarakat manusia.
Model gerakan Flotila dinilai brilian — melibatkan seluruh masyarakat dunia, mengangkat Palestina ke level isu kemanusiaan universal. 9 WNI Indonesia ditahan Israel, namun Indonesia tidak punya hubungan diplomatik langsung dengan Israel.
Program One on One ini mengungkap lima pelajaran strategis kunci bagi Indonesia dan dunia: (1) Konflik Iran adalah "kedondong" — jauh lebih kompleks dari prediksi, sehingga semua pihak harus melakukan strategic adjustment; (2) Selat Hormuz + Babul Mandeb adalah dua chokepoint yang bila tertutup mengancam 7 miliar penduduk tiga benua tua; (3) Ancaman nyata bukan energi semata, melainkan pupuk dan kelaparan; (4) Perjuangan Palestina telah berevolusi menjadi isu kemanusiaan global dengan basis moral yang jauh lebih kuat; (5) Indonesia harus proaktif melalui OKI, PBB, dan BRICS, sekaligus mengamankan kemandirian pangan nasional.
Program One on One tvOne · Peran Indonesia di Tengah Konflik Global · 2026 · Narasumber: Anis Matta (Wamenlu RI) · Pewawancara: Venna Kintan
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam pemirsa. Anda menyaksikan program One on One bersama saya Venna Kintan. Di tengah konflik yang terus berkembang saat ini, Indonesia dituntut untuk bersikap beradaptasi terhadap perubahan geopolitik dunia. Lalu, bagaimana Indonesia memandang eskalasi konflik yang semakin kompleks ini? Malam hari ini program One on One secara eksklusif mengundang Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Bapak Anis Matta.
Pak Wamen, kita ingin mengawali diskusi kita malam hari ini dengan pembahasan mengenai situasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan juga Iran yang kita tahu kian memanas saat ini. Bagaimana Anda melihat eskalasi konflik sejauh ini?
Konflik Iran atau perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sekarang ini bisa kita baca dalam dua landskap. Yang pertama landskap regional dan yang kedua landskap global.
Di landskap regional sekarang ini kita menyaksikan ada satu proses yang bisa kita bilang no war no peace. Jadi situasinya tidak ada perang eskala besar, tetapi juga tidak ada damai yang pasti. Kalau kita bertanya kepada para pelaku di kawasan—saya kebetulan baru kembali dari perjalanan di Timur Tengah—dalam banyak perbincangan secara informal, mereka semua memberikan skor tentang situasi: peluang damai dan perang berlanjut itu 50-50.
Kita lihat misalnya, bagi Amerika, menyelesaikan Iran ini tidak semudah menyelesaikan Venezuela. Kalau di Venezuela sebelumnya kita menyaksikan gaungnya di media luar biasa besarnya, seakan-akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi. Tahu-tahunya cuma penculikan, dan selesai. Kalau di Iran, tidak sebesar gaungnya soal Venezuela sebelumnya. Cuma ada pengerahan pasukan yang luar biasa dan asumsinya bahwa perang ini akan selesai dalam 48 jam, tetapi di luar prediksi.
Jadi kira-kira kalau kita membuat perbedaan Venezuela dan Iran, ini sama dengan durian dan kedondong. Kalau durian, seram di depannya, begitu dibelah enak. Kalau kedondong, halus di depannya, begitu dimakan ada duri di dalamnya. Sekarang, karena ada realitas baru di lapangan yang tidak semudah menyelesaikan kasus ini, maka semua pihak di lapangan, para aktor dan semua yang terlibat, pasti akan melakukan strategic adjustment—penyesuaian strategi.
Yang terjadi sekarang ini sebenarnya baru mau sampai kepada adanya semacam nota kesepakatan awal, belum perundingan. Belum ada perundingan sebenarnya. Yang terjadi ini adalah negosiasi syarat-syarat yang diinginkan oleh para pihak untuk berunding masing-masing.
Yang bisa kita pastikan sekarang dalam proses regional ini adalah bahwa Iran telah mencapai satu strategic position yang baru, yang memberikan mereka posisi tawar yang jauh lebih kuat daripada sebelum perang. Tidak gampang memaksakan kehendak kepada Iran saat ini karena dalam perang ini mereka terbukti survive.
Kriteria Amerika dalam menyatakan bahwa dia menang berbeda dengan kriteria Iran dalam menyatakan bahwa dia menang. Bagi Iran, makna menangnya adalah "Saya bisa bertahan di depan negara adidaya, negara yang secara militer paling powerful di dunia."
Bagaimana kemudian perdamaian bisa tercapai jika di tengah situasi menuju perundingan, serangan militer masih terus terjadi?
Itu yang saya maksud tadi, bahwa di dalam masing-masing negara ada tarik ulur antara dua kekuatan itu. Yang ingin damai dan yang ingin menyetop perang di pihak Amerika. Sepanjang tarik ulur ini masih terus terjadi, proses negosiasi ini akan sangat-sangat alot.
Faktor utama yang bisa membuat terjadinya eskalasi lebih lanjut pada dasarnya adalah Israel. Karena kalau ada perdamaian di kawasan itu, maknanya secara militer dan politik adalah Iran menang. Itu berarti Iran akan menjadi satu kekuatan utama di kawasan, dan bagi Israel—secara personal bagi Netanyahu—itu adalah kekalahan telak. Israel tidak mau itu. Gangguan terbesar terhadap proses perdamaian adalah Israel, dan secara personal adalah Netanyahu.
Kita bisa melihat bagaimana Presiden Amerika Serikat Donald Trump seperti mendorong upaya perundingan, tapi kemudian Netanyahu seakan berbisik kepada Amerika Serikat untuk terus melancarkan serangan sampai melemahkan Iran?
Karena itu seakan selalu ada yang namanya distraksi, gangguan dalam proses perdamaian. Gangguan terbesarnya akan datang dari situ.
Kalau kita ingin memahaminya lebih jauh, kita tarik masalah ini ke landskap global. Saya ingin melihatnya terlebih dahulu dalam perspektif geografi. Perang Iran ini terjadi bulan Februari tahun ini. Satu bulan sebelumnya adalah Venezuela, tepatnya 2 Januari 2026.
Secara geografi, kawasan benua Amerika—dari Kanada, Amerika Serikat, turun ke Amerika Latin—adalah benua yang paling aman. Kombinasi minyak yang ada di Kanada, Amerika, Venezuela, dan beberapa negara Amerika Latin lainnya sangat besar. Ini kawasan yang paling aman dengan kombinasi GDP sekitar 40 triliun lebih. Ini artinya secara ekonomi bisa menjadi satu pusat pertumbuhan ekonomi yang paling aman di dunia.
Di seberang benua ini ada tiga benua tua: Asia, Afrika, dan Eropa. Jantung dari tiga benua tua ini adalah Timur Tengah. Di jantung ini, dia bukan hanya jantung dari sisi energi, tetapi juga terutama dari sisi logistik, jalur pergerakan, terutama Selat Laut Merah. Yang kita pikirkan selama ini cuma Selat Hormus, di mana semua pasokan energi keluar. Tapi sebenarnya jalur perdagangan yang penting adalah yang menghubungkan Eropa, Afrika, Asia — di situ ada teluk kecil Babul Mandeb.
Yang lebih mengkhawatirkan dari energi adalah pupuk. Pupuk akan menjadi sumber ancaman kelaparan.
Kita lanjutkan diskusi. Pak Wamen, tadi sempat terpotong penjelasan Anda soal pupuk. Bagaimana soal pupuk ini?
Kita harus melihat pupuk dari sisi geografi dan populasi. Penduduk bumi sekarang 8 miliar lebih. Di benua Amerika hanya ada 1,1 miliar. Sisanya 7 miliar ada di tiga benua tua, paling banyak Asia, kemudian Afrika, baru Eropa.
Negara-negara Asia seperti Cina, India, Korea, Jepang, Asia Tenggara, Pakistan, Bangladesh—semua adalah negara padat populasi, ekonominya bertumbuh berbasis pada industri dan berorientasi pada ekspor. Tapi kita tidak punya sumber daya energi yang cukup.
Sekarang begitu Hormus menjadi chokepoint, kolateralnya yang paling besar adalah Asia. Korbannya yang paling besar adalah Asia. Yang kita rasakan sekarang baru dampak energinya—kenaikan harga. Jika perang terus berlangsung dan chokepoint ini terus terjadi, kita akan punya masalah pupuk. Masalah pupuk akan menjadi masalah semua negara di kawasan Asia.
Kita bisa mengimpor dari mana? Salah satunya Rusia. Tapi kita punya kendala dalam payment system karena sanksi. Itu sebabnya pemerintah Indonesia terus berusaha mengejar sisi keamanan pangan sebagai instrumen utama untuk survive sebagai bangsa. Saya baru dari Laos kemarin, yang kita bantu adalah kerja sama investasi soal pupuk, juga dengan negara-negara Timur Tengah seperti Yordania, Maroko, Aljazair, yang punya fosfat.
"Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah: 'Anda berperang, kami yang mati.'"
Beberapa hari lalu, Amerika Serikat kembali menyerang wilayah Iran Selatan. Juga Israel serang Lebanon lagi meski gencatan senjata, pasukan darat tembus garis kuning. Di tengah negosiasi, serangan militer masih terus gencar dilakukan.
Semua serangan ke Iran di wilayah mana pun dan juga ke Lebanon adalah instrumen distraksi, instrumen untuk menggagalkan semua proses perdamaian. Bukan untuk menekan, itu untuk menggagalkan, karena memang ada yang tidak menginginkan perdamaian.
Bagi Israel, kepentingannya adalah mendorong mazhab yang keras. Karena jika ini terhenti dan ada perdamaian, Netanyahu akan semakin terisolasi di kawasan. Yang mungkin dicegah oleh Israel adalah negara-negara Teluk menemukan cara untuk berdamai dengan Iran.
Negara-negara Islam menunjukkan sikap yang berbeda. Posisi Indonesia saat ini ke arah mana?
Kita harus lihat dulu. Konsern kita adalah bagaimana mengubah zona konflik ini menjadi zona pembangunan. Syaratnya hanya satu: damai. Kita harus mendorong semua kekuatan yang ada di semua negara ini—Amerika, Iran, Teluk—untuk mendorong perdamaian. Sebab kita juga rugi kalau tidak ada perdamaian. Kalau perang berlangsung, kita juga jadi korban. Karena kita negara industri. Industri kita tidak akan kompetitif kalau harga minyak naik dan jalur perdagangan terganggu atau tertutup.
Masalahnya, kita tidak terlibat dalam proses negosiasi secara langsung. Yang terlibat adalah Pakistan, negara-negara Teluk, Turki. Indonesia tidak terlibat secara langsung, tapi terlibat dalam forum-forum multilateral, baik melalui OKI maupun PBB. Yang dilakukan Indonesia adalah pada forum multilateral, semua kita pakai untuk mendorong proses perdamaian.
Selain konflik AS-Israel-Iran, konflik Palestina masih berlangsung. Bagaimana menurut Anda konflik Palestina yang sampai saat ini belum selesai?
Kalau kita simpulkan, tahapan perjuangan kemerdekaan Palestina sudah sampai ke level yang saya sebut sebagai perang antara kemanusiaan dan anti kemanusiaan. Isu Palestina bukan lagi milik rakyat Palestina semata, tapi milik dunia.
Yang membuka mata dunia adalah genosida yang terjadi sepanjang 2023, 2024, sampai 2025 kemarin, yang bahkan masih terus terjadi. Orang memandang bahwa peristiwa di Palestina—begitu genosida terjadi—semua orang di dunia terbuka matanya bahwa yang kita saksikan ini bukan sekadar penjajahan, ini real genosida.
Semua langkah yang dilakukan Israel di Gaza untuk terus menerus membumihanguskan atau mengusir orang-orang Gaza dengan berbagai cara hanya akan menghancurkan moral ground Israel di mata dunia. Basis moral kenapa negara itu berdiri semakin habis. Lawannya bukan rakyat Palestina, tapi dunia. Ini masalah waktu. Tidak ada yang bisa melawan kemanusiaan.
Lantas di mana posisi Indonesia dalam mendorong kemerdekaan Palestina?
Sekarang kita memperbanyak dukungan politik, media, dan bantuan kemanusiaan. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dan rakyat Indonesia sudah luar biasa. Bahkan bantuan rakyat masih lebih besar daripada bantuan pemerintah. Ini fenomena yang menarik: sikap rakyat dan pemerintah benar-benar satu nafas, sejalan.
Saya terlibat dalam isu Palestina lebih dari 30 tahun secara personal. Saya mengikuti bagaimana gelombang perlawanan menuju kemerdekaan berkembang. Di tahun 50-an, 60-an, 70-an sampai pertengahan 80-an, narasinya adalah konflik Arab-Israel, isu ras. Tahun 90-an ke atas, narasinya berkembang menjadi dunia Islam versus Israel. Tapi dalam 3 tahun terakhir, narasinya berkembang menjadi kemanusiaan versus anti kemanusiaan.
Kalau kita melihat rangkaian waktu bagaimana perjuangan ini berkembang, saya sangat optimis bahwa kemerdekaan Palestina jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan.
Soal Global Summit Flotila: relawan termasuk asal Indonesia ditangkap dan disiksa tentara Israel. Bagaimana memperjuangkan kemanusiaan jika relawan dicegah?
Saya garis bawahi dua fakta. Pertama, model pergerakan membantu perjuangan kemerdekaan Palestina melalui Global Summit Flotila adalah inisiatif yang sangat brilian karena melibatkan seluruh masyarakat dunia. Kedua, Global Summit Flotila telah menjadi keputusan bagi banyak pihak untuk menjadi gerakan permanen sampai Palestina merdeka.
Yang kita lihat baru lewat laut, belum lewat darat. Ini menjadi milestone bahwa Palestina tidak lagi diperjuangkan oleh rakyat Palestina sendiri, tapi rakyat dunia, bukan lagi hanya masyarakat muslim, tapi masyarakat dunia. Semakin kejam Israel memperlakukan mereka, semakin menang perjuangan flotila itu.
Evaluasi apa yang dilakukan pemerintah atas insiden yang dialami relawan asal Indonesia?
Pertama, Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, jadi tidak ada komunikasi langsung. Kita berkoordinasi dengan negara terkait seperti Yordania, Mesir, Turki, Siprus. Kita berkoordinasi dengan KBRI di Roma, karena Siprus berada di bawah KBRI Roma.
Tugas utama Kemlu adalah perlindungan warga negara. Di rute mana pun mereka lewati, semua KBRI di kawasan itu terlibat. Sejak perang Iran, kita di Kemlu mendapatkan report real-time dari kedutaan-kedutaan kita. Kita membentuk crisis center untuk memantau perkembangan terus-menerus.
Saya memberikan apresiasi kepada teman-teman yang terlibat dalam Global Summit Flotila, dan apresiasi mendalam untuk WNI yang ditahan di sana. Mudah-mudahan menjadi pahala bagi mereka dan kontribusi bagi Indonesia serta kemerdekaan Palestina.
Semakin kejam Israel memperlakukan para aktivis yang terlibat, semakin meningkatkan adrenalin perlawanan dan menjadi tontonan global, sama seperti genosida, dan sekali lagi memperkuat fondasi moral bagi kemerdekaan Palestina yang mungkin akan datang lebih cepat dari yang kita duga. Prinsipnya, pemerintah memberikan dukungan dan melindungi relawan Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan. Itu kewajiban pemerintah.
Terima kasih banyak Pak Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Bapak Anis Matta, sudah meluangkan waktu secara eksklusif dalam program One on One. Sukses selalu, Pak.
Terima kasih.
Selamat malam, pemirsa. Demikian program One on One. Saya pamit. Terima kasih atas kebersamaan Anda. Sampai jumpa.
Konten ini disusun berdasarkan transkrip resmi program One on One tvOne. Semua kutipan merupakan pernyataan Anis Matta selaku Wakil Menteri Luar Negeri RI. PDF dokumen pendamping: Peran Indonesia di Tengah Konflik Global. Untuk verifikasi, kunjungi sumber YouTube resmi tvOne.
Navigasi dengan tombol di bawah, tombol panah keyboard, atau gestur geser. Scroll mouse untuk zoom. Tekan Layar Penuh untuk melihat dalam mode landscape 16:9.
File Peran Indonesia di Tengah Konflik Global.pdf tidak ditemukan.
Pastikan file berada di folder yang sama dengan index.html ini.